LAA ILAAHA ILLALLAH

LAA ILAAHA ILLALLAH

SEKAPUR SIRIH


ASSALAAMU'ALAIKUM WR. WB.
BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIIM...

ALHAMDULILLAH, BLOG AL-ISLAM INI DIBUAT DENGAN TUJUAN UTAMANYA ADALAH DAKWAH ISLAMIAH SERTA MEMBERIKAN KEBEBASAN BEREKSPRESI DALAM BERAGAMA ISLAM BAGI PARA PEMELUKNYA DEMI TERCAPAINYA SUATU PEMAHAMAN YANG KOMPREHENSIF & MENDALAM TENTANG AGAMANYA MELALUI PRINSIP-PRINSIP SALING MENGHORMATI, SALING MENGINGATKAN SESAMA MUSLIM DENGAN BERLANDASKAN KEPADA TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA TANPA ADA NIAT SEDIKITPUN UNTUK MENDISKREDITKAN AGAMA-AGAMA LAIN DI LUAR AGAMA ISLAM.
(Pengasuh Blog)

MUTIARA ISLAM (1) :

MUTIARA ISLAM (2) :

MUTIARA ISLAM (3) :

DUNIA YANG MENGELABUI & MENIPU DAYA

>> 19 Maret 2009

Kekeliruan utama masyarakat yang tidak mempedulikan pandangan Islam adalah menyangka dunia yang mereka sentuh dan lihat merupakan suatu hal yang agung dan mutlak pada keberadaan duniawi. Mereka menganggap semua itu “abadi dan tidak pernah berakhir”. Mereka memuja semua itu dan mencari pertolongan dengannya. Akibatnya, mereka sedikit demi sedikit melupakan Allah dan bahkan mengingkari keberadaan-Nya. Persangkaan mereka terhadap keberadaan Allah adalah “tidak nyata dan merupakan khayalan semata” dibandingkan dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Itulah cara berpikir yang salah dari orang-orang yang ingkar. Hal yang mutlak bukanlah benda-benda duniawi, melainkan Allah. Al-Qur`an menjelaskan,

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (al-Hajj: 62)

Sebenarnya, keberadaan benda-benda duniawi hanya ada setelah diciptakan oleh Allah. Keberadaannya menurut kehendak dan perintah-Nya. Dengan demikian, kemutlakan benda-benda patut dipertanyakan. Benda hanya ada sebagai hasil dari perintah Allah. Allah menjelaskan kenyataan ini,

“Sesungguhnya, Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya, Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Faathir: 41)

Ini menunjukkan bahwa dunia beserta isinya tetap ada karena dipertahankan oleh Allah dan jika Dia menghendaki, semua itu akan lenyap. Hal itu berarti alam ini dibuat dengan hal-hal yang mengelabui, yang akan hilang bila diperintahkan. Kehendak Allah yang tanpa batas ini di luar pemahaman manusia, tetapi “mimpi” adalah cara untuk menjelaskan penciptaan ini. Sebagai contoh, ketika seseorang terbangun dari mimpi, alam yang ada dalam mimpinya hanyalah pikirannya semata selama tidur. Ketika pikirannya menghentikan “bentukan” alam tersebut, seketika ia lenyap dan tidak ada lagi. Sesungguhnya, tidak ada benda atau manusia bebas.

Seorang ulama yang terkenal, Imam Rabbani, menceritakan kebenaran yang haq ini (narasi ini diringkas dan ditulis ulang dalam penerjemahan).

“Allah telah memutuskan penjelmaan setiap nama-nama-Nya (Yang Mahaadil, Maha Pengasih, dan lain-lain) dan memberikan sifat-sifat-Nya kepada yang diciptakan, dan manusia diciptakan semata-mata bukanlah apa-apa. Yang Maha Esa dan hanya Allahlah dengan kekuatan-Nya memutuskan tempat realisasi nama-nama-Nya dan menciptakan mereka dalam dunia ilusi (khayalan). Dia menentukan ini pada waktu dan bentuk yang ia inginkan.

Keberadaan alam ini hanyalah ilusi dan sensasi tanpa pengecualian. Dalam hal ini, yang bukan apa-apa dan ilusi tersebut mendapatkan kekuatan dan suara dari penciptaan Allah sehingga ciptaan itu menjadi hidup, mengenal, berbuat, bertanya, mendengar, dan berbicara dengan kehendak-Nya. Akan tetapi, semuanya merupakan penjelmaan dan yang ada hanyalah bayang-bayang. Tiada jalan untuk keluar. Di luar dunia, tiada sesuatu melainkan ciptaan Allah dan nama-nama-Nya.

Setiap sesuatu yang muncul dalam cermin (bayangan) Yang Mahakuasa dan pada jalan ini, mereka mendapatkan penampilan luar: mereka terlibat seperti eksitensi di dunia luar. Akan tetapi, tidak ada yang lain selain bayangan. Tiada seseorang dan sesuatu pun melainkan Allah.” (Maktubati Rabbani, Imam Rabbani, hlm. 517-519)

Karena tidak ada yang lain selain Allah dan segala sesuatu di alam ini merupakan penjelmaan-Nya, maka pencipta semua perbuatan tak lain adalah Yang Mahakuasa. Al-Qur`an menjelaskan rahasia ini pada sejumlah ayat,

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Anfaal: 17)

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya, Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (al-Insaan: 30)

“Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.” (al-Anfaal: 44)

Dunia memiliki wajahnya sendiri seperti yang telah dibuktikan. Dalam hal ini, segala sesuatu tampak bebas dan tidak terkendali. Akan tetapi, sesuai bentuknya menurut penciptaan mereka, semuanya patuh dan tunduk pada kehendak Allah. Dijelaskan dalam Al-Qur`an,

“Sesungguhnya, aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya, Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Huud: 56)

Dengan mengetahui tidak ada sesuatu melainkan Allah, terbukalah rahasia bahwa tidak ada seorang pun melakukan sesuatu atas kehendak dirinya sendiri. Rahasia ini harus selalu diingat oleh orang beriman, sehingga orang beriman mengetahui bahwa terjadinya semua perbuatan buruk orang-orang ingkar itu atas kehendak Allah. Karena itu, orang-orang beriman menerjemahkan dan mengevaluasi semua kejadian menurut pengertian yang ada. Hal ini akan membantu mereka berbuat yang benar dan bertindak dengan ikhlas, baik, dan bijaksana.

Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (al-Baqarah: 32)

Read more...

DAPAT DIPERCAYA

Al-Qur`an menggambarkan sifat amanah sebagai salah satu prinsip moral dan jalan menuju kesuksesan. Orang-orang beriman harus menjaga amanat yang dipercayakan kepadanya sampai amanat tersebut dikembalikan. Selain itu, mereka pun harus dapat membedakan siapa yang mengamanatkan dan siapa yang berhak atas amanat tersebut. Dalam hal ini, Al-Qur`an menjelaskan,

“Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya, Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya, Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (an-Nisaa`: 58).

Pada ayat lain dijelaskan : “(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertaqwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.” (Ali Imran: 76)

Amanat bisa berupa uang, tugas, atau hal lain. Orang beriman harus dapat menjadi dan membedakan orang-orang yang dapat dipercaya.

Read more...

JANGAN MEMANGGIL ORANG-ORANG BERIMAN DENGAN SEBUTAN-SEBUTAN YANG BURUK

Menjadi kebiasaan bagi orang yang ingkar memanggil orang lain dengan panggilan yang buruk. Maksud sebenarnya dari kebiasaan itu tidak lain adalah untuk merendahkan orang lain dan “membuktikan” kehebatan dirinya sendiri. Panggilan buruk tersebut bisa diambil dari kekurangan fisik ataupun kesalahan di masa lampau. Orang-orang yang ingkar tidak akan melupakan kesalahan orang lain meski ia sudah bertobat.

Akan tetapi, orang beriman berbeda dari mereka. Mereka selalu memaafkan dan menjaga persaudaraan di antara mereka. Itulah sebabnya, mereka tidak berbuat seperti itu. Lagi pula Allah telah memerintahkan, “... Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk....” (al-Hujuraat: 11)

Read more...

JANGAN MENGOLOK-OLOK

Ayat berikut secara jelas memberitahukan kepada orang-orang beriman agar jangan saling mengolok-olok.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) bisa jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) bisa jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Hujuraat: 11)

Allah menyuruh manusia menahan diri dari mengolok-olok. Mengolok-olok dapat berupa menertawai kemalangan orang lain, tersenyum sinis, menyindir, atau memandang rendah. Sikap-sikap seperti itu merupakan budaya orang-orang jahil dan tidak sesuai dengan orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Al-Qur`an memperingatkan kita bahwa orang yang memperturutkan sikap yang demikian akan menderita karena api neraka akan merambat sampai membakar hati mereka.

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya, dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya, api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.” (al-Humazah: 1-9)

Tidaklah mungkin bagi orang-orang beriman berperilaku sinis setelah mengetahui kehendak Allah ini. Karena itu, tidak ada orang beriman yang dengan sengaja bersikap seperti itu. Akan tetapi, jikalau ada orang beriman yang tergelincir pada sikap demikian, hal itu disebabkan karena ketidaksadarannya berlaku salah dan menganggapnya sebagai lelucon. Akan tetapi, begitu ia menyadari kesalahannya, ia harus segera berhenti dan bertobat.

Read more...

JANGAN BERDEBAT TENTANG HAL-HAL YANG TIDAK KITA KETAHUI

Di dalam Al-Qur`an, manusia digolongkan sebagai makhluk “yang paling banyak membantah” (al-Kahfi: 54). Pada ayat yang lain, kritikan ini diberikan bagi orang-orang yang ingkar,

“Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata, ‘Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?’ Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (az-Zukhruf: 57-58)

Alasan bagi kecenderungan mendebat sesuatu tidaklah untuk mengungkapkan atau mengevaluasi pendapat yang berbeda, tetapi untuk memuaskan diri dalam memicu perselisihan. Argumen orang-orang yang jahil bukan mengevaluasi pandangan orang lain atau mencari solusi. Tujuannya tak lain adalah mengalahkan orang itu. Inilah yang menjelaskan mengapa ada suara keras dan tarik urat selama berargumen, dan mengubah diskusi menjadi pertengkaran.

Hal itu benar-benar aneh, mendebat sesuatu dengan tidak disertai ilmu. Contoh yang paling nyata terlihat pada diskusi antar pemeluk agama, di mana para argumentator pada umumnya sangat jahil. Kesalahan tersebut dijelaskan pada ayat,

“Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka mengapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Ali Imran: 66)

Read more...

BERPALING DARI ORANG-ORANG JAHIL

Di dalam Al-Qur`an, orang-orang beriman digambarkan sebagai berikut :

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (al-Furqaan: 63)

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya dan mereka berkata, ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.’” (al-Qashash: 55)

Orang-orang beriman memiliki pembawaan damai. Sebaliknya, orang-orang yang ingkar memiliki sifat pemarah, gelisah, dan agresif. Hal itu merupakan siksa neraka yang ditimpakan di dunia. Itulah sebabnya, mereka menjadi pembuat masalah dan terus-menerus menghadapi kesulitan. Akan tetapi, orang beriman tidak mempedulikan mereka kecuali jika mereka bermaksud membahayakan orang-orang beriman dan Islam. Orang beriman bertindak mulia, seperti yang digambarkan ayat di atas. Ketika terjadi campur tangan, mereka tidak berlaku kasar, namun tetap beradab dan patuh pada hukum.

Read more...

RENDAH HATI

Anggota dari kelompok orang-orang yang ingkar biasanya bersifat kasar, tidak peduli, dan buruk akhlaknya. Semua ini disebabkan keegoisan orang-orang yang ingkar. Mereka menyangka dapat hidup sendiri sehingga tidak memerlukan yang lainnya. Akan tetapi, kelompok orang beriman sangat berbeda dengan orang-orang tersebut karena salah satu karakter orang beriman ialah menahan nafsu serakah.

Mereka yang dapat menahan nafsu akan menjadi orang yang penuh perhatian terhadap sesama. Al-Qur`an memberitakan jenis pengorbanan antara orang-orang Mekah yang hijrah bersama Rasulullah saw. (Muhajirin) dan orang-orang Madinah yang menolong mereka (Anshar),

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)

Seperti yang disebutkan dalam ayat tersebut, orang-orang beriman harus mendahulukan kepentingan saudaranya di atas kepentingan pribadi. Itulah sebenar-benarnya iman: kepatuhan dan persaudaraan.

Mendahulukan kepentingan saudaranya tidak terbatas dalam berhubungan dengan hal-hal fisik saja. Ukhuwah juga tidak terpisah dari pemikiran. Seseorang yang beriman harus menyadari kebutuhan dan masalah saudaranya lebih dari dirinya sendiri.

Sikap kasar dan berakhlak buruk menunjukkan kelemahan iman seseorang. Seseorang yang tidak menyadari betapa tindakannya akan memengaruhi orang lain dan berbuat menurut apa yang “dikehendaki” saja, bukanlah contoh orang beriman yang digambarkan Allah. Al-Qur`an menitikberatkan hal ini dengan beberapa contoh tindakan yang berakhlak mulia maupun yang buruk. Dan yang terpenting adalah dengan memuliakan dan menghormati Rasululah saw.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Hujuraat: 1)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya, yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya, perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (al-Ahzab: 53)

Orang yang dibesarkan dengan ajaran Al-Qur`an akan menjadi mulia, sopan, santun, dan berakhlak mulia. Inilah sifat alami orang beriman yang mendahului kepentingan saudaranya di atas kepentingan pribadi dan yang memberi makan orang-orang fakir, anak yatim, dan para tahanan karena cinta kepada Allah. Berakhlak mulia menjadi sifat penghuni surga. Tidak mengganggu saudaranya ketika mempunyai urusan penting, berdiam diri ketika temannya sedang shalat, membuat saudaranya merasa aman, menawarkan bantuan dan melayani mereka tanpa bertanya merupakan contoh perbuatan baik. Akan tetapi, semua itu merupakan contoh yang menuntut perubahan situasi dan kondisi.

Read more...

BERLINDUNG KEPADA ALLAH DARI GODAAN SYETAN KETIKA MEMBACA AL-QUR'AN

Al-Qur`an adalah wahyu Allah yang diturunkan untuk mengingatkan manusia. Ketika Al-Qur’an membantu meningkatkan keimanan orang-orang beriman, pada saat yang sama Al-Qur`an mengungkapkan penolakan orang-orang yang ingkar.

“Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur`an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al-Qur`an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Ali Imran: 7)

Hal itu berarti dalam beberapa ayat Al-Qur`an terdapat ungkapan tentang penyimpangan “orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan” dan juga peningkatan keimanan dan kepasrahan kaum mukminin.

Haruslah dicatat bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menjamin bahwa dirinya akan dapat terus memelihara keimanannya. Kaum mukminin bisa kehilangan Al-Qur`an dalam hatinya akibat godaan setan. Biasanya, mereka tidak dapat menangkap hikmah Al-Qur`an sewaktu membacanya ketika berada di bawah pengaruh setan. Itulah sebabnya mengapa Allah memerintahkan orang beriman agar berlindung kepada-Nya dari pengaruh setan sebelum membaca Al-Qur`an, “Apabila kamu membaca Al-Qur`an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (an-Nahl: 98)

Perintah ini sangat penting karena mengingatkan orang beriman akan kehadiran dan aktivitas setan yang tiada henti. Dalam bekerja, setan menunggu orang-orang yang berada di jalan yang lurus serta mengganggu mereka “dari depan dan belakang, dari kanan dan kiri”. Strategi iblis tersebut dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Qur`an. Keselamatan dari tipu daya iblis dapat diraih hanya melalui Al-Qur`an, yang memperingatkan kita agar melawan trik-trik iblis dan meminta kita agar menghindari mereka. Jalan keluarnya adalah dengan menerima Al-Qur`an sebagai satu-satunya panduan dan membacanya setelah berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Read more...

ISLAM IS A WAY OF LIFE

ISLAM IS A WAY OF LIFE
ALLAH SANG MAHA ESA & MAHA BERKUASA
Jadwal Waktu Sholat (6 Juta Kota)

BIMBINGAN SHOLAT WAJIB ( Klik Gambar untuk Mulai )

Hanya Allah SWT yang Maha Berkuasa atas Dunia dan Akhirat

Hanya Allah SWT yang Maha Berkuasa atas Dunia dan Akhirat

Kami Mencintai Allah SWT dan Muhammad SAW

Kami Mencintai Allah SWT dan Muhammad SAW

Nabi yang Paling Kami Cintai adalah Muhammad SAW

Nabi yang Paling Kami Cintai adalah Muhammad SAW

  © Free Blogger Templates Joy by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP