LAA ILAAHA ILLALLAH

LAA ILAAHA ILLALLAH

SEKAPUR SIRIH


ASSALAAMU'ALAIKUM WR. WB.
BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIIM...

ALHAMDULILLAH, BLOG AL-ISLAM INI DIBUAT DENGAN TUJUAN UTAMANYA ADALAH DAKWAH ISLAMIAH SERTA MEMBERIKAN KEBEBASAN BEREKSPRESI DALAM BERAGAMA ISLAM BAGI PARA PEMELUKNYA DEMI TERCAPAINYA SUATU PEMAHAMAN YANG KOMPREHENSIF & MENDALAM TENTANG AGAMANYA MELALUI PRINSIP-PRINSIP SALING MENGHORMATI, SALING MENGINGATKAN SESAMA MUSLIM DENGAN BERLANDASKAN KEPADA TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA TANPA ADA NIAT SEDIKITPUN UNTUK MENDISKREDITKAN AGAMA-AGAMA LAIN DI LUAR AGAMA ISLAM.
(Pengasuh Blog)

MUTIARA ISLAM (1) :

MUTIARA ISLAM (2) :

MUTIARA ISLAM (3) :

FOTO PALSU NABI MUHAMMAD S.A.W.

>> 10 Januari 2010

SAUDARAKU SEIMAN DAN SEAGAMA>> SEBELUMNYA ISTIGHFARLAH DULU ASTAGHFIRLLAH HAL ADZIM 3X……….(tulisan ini menjelaskan bahwasanya foto tersebut bukan foto nabi muhammad tetapi foto remaja tunisia,,, pahamilah saudaraku semua….)

Bertahun-tahun diterbitkan gambar yang disebut sebagai gambar masa mudanya Nabi Muhammad saw di Iran. Masyarakat Iran di samping menunjukkan rasa suka terhadap gambar itu, mereka juga mempertanyakan keabsahannya. Sebagian menyebutkan bahwa gambar itu dilukis oleh pendeta Buhaira yang sempat mengiringi Nabi Muhammad saw bersama pamannya ke Syam. Pada kenyataannya, banyak yang meragukan jawaban ini.

Tulisan berikut ini adalah usaha untuk mencari sumber asli gambar masa muda Nabi Muhammad saw. Para penulis berusaha mengargumentasikan dari mana asal gambar itu. Namun, kelihatannya, masalah ini senantiasa terbuka untuk dijadikan kajian.

Tulisan ini adalah hasil terjemahan yang dilakukan oleh Rasul Ja’fariyah dari makalah yang judul aslinya The Story of Picture Shiite Depictions of Muhammad, Pierree Centlivre & Micheline Centlivres-Demont dalam majalah ISIM Review 17, Spring 2006, hal 18-19.

Syiah Iran punya pengalaman yang cukup panjang dalam menggambarkan keluarga Nabi Muhammad saw dan Nabi sendiri. Pada akhir-akhir dekade 90 –an poster yang menggambarkan wajah Nabi Muhammad saw di cetak di Iran dan menjadi salah satu poster terlaris. Dalam poster itu menggambarkan wajah masa muda dari Nabi Muhammad saw.

Saat ini, poster ini dicetak dengan mempergunakan teknologi modern dengan alat dan teknik yang beragam. Sekalipun demikian, struktur gambar masih mempertahankan gaya tradisionalnya. Warna yang dipakai masih mempertahankan kesederhanaan. Namun, tetap saja memiliki kelebihan yang membedakannya secara mudah dari gambar yang lain seperti pedang Ali as yang memiliki dua mata.

Penggambaran yang akan kami bawakan berbeda dengan penggambaran sebelumnya. Gambar seorang pemuda tampan, mata sendu dan wajah yang menenangkan hati mengingatkan orang akan gambar-gambar di zaman Renaisan. Terutama gambar-gambar tentang pemuda yang dilukis oleh Caravagio seperti lukisan Boy Carrying a Fruit Basket yang berada di galeri Borghese, Roma dan lukisan Saint John The Baptist di museum Capitole. Kelembutan bak beludru, mulut yang setengah terbuka dan tatapan sendu.

Sekalipun ada beberapa naskah dari gambar ini, namun semuanya menunjukkan kesan muda dan di bawahnya tertulis “Muhammad Rasulullah”, bahkan sebagian memberikan informasi lebih detil tentang periode kehidupan Nabi ketika lukisan ini dilukis serta sumber lukisan sekaligus.

Penemuan menarik

Pada tahun 2004, ketika menyaksikan pameran foto dua orang seni rupa Lehnert dan Landrock, secara tidak disengaja akhirnya tersingkap juga sumber poster Iran itu. Itu dapat dilihat di foto Lehnert sepanjang tahun 1904-1906 yang diambilnya di Tunisia. Foto ini kemudian pada dekade 20 –an dicetak dalam kartu ucapan selamat.

Radolf Franz Lehnert (1878-1948) adalah warga negara Chekoslowakia sekarang. Pada tahun 1904 bersama Ernst Heinrich Landorck (1878-1966) berkebangsaan Jerman, bersama-sama menuju Tunisia. Lehnert sebagai fotografer dan Landrock sebagai penerbit dan direktur. Tahun sebelumnya, Lehnert pernah tinggal sebentar di Tunisia. Saat itulah ia jatuh cinta dengan alam di sana dan penduduknya. Keduanya membangun perusahaan L & L yang beroperasi di bidang penerbitan foto-foto dari pemandangan indah Tunisia dan Mesir. Hasilnya adalah ribuan foto dan kartu dengan gambar daerah ini yang dicetak.

Lehnert pernah mengenyam pendidikan di Yayasan Seni Grafis di Vienna. Ia punya hubungan dengan anggota Pictorialist yang menganggap foto sebagai karya seni. Foto-foto Lehnert tidak saja berbicara mengenai gurun pasir, bukit-bukit pasir, pasar dan kawasan penduduk Tunisia, tapi juga foto-foto dari remaja putra dan putri yang umurnya antara anak dan remaja dan masih memiliki wajah antara laki dan wanita. Foto-foto ini biasanya diambil sesuai dengan pesanan pembeli Eropanya. Foto tentang dunia Timur yang memberikan nuansa lain.

Lehnert sangat memanfaatkan kesempatan ini, namun ia juga mengolah kejeniusannya dalam menyiapkan karyanya. Foto-fotonya dicetak dalam bentuk perak, dalam bentuk gambar timbul dan dibuat dalam empat warna. Kebanyakan dari kartu ucapan selamatnya ini dicetak di Jerman sejak tahun 1920 dan disebarkan di Mesir.

Cetakan-cetakan dan teks yang sesuai

Tidak diragukan bahwa kartu yang ditunjukkan dalam bentuk 1, berdasarkan penomoran L & L, nomornya adalah 106 dikenal dengan poster Iran. Yang lebih menarik nama kartu nomor 106 adalah Muhammad. Ini dengan sendirinya dapat menunjukkan mengapa pelukis Iran menjadikannya sebagai model untuk lukisan Nabi Muhammad saw. Tidak ragu lagi, semua naskah yang ada dari foto ini menjadikan foto nomor 106 sebagai contoh dengan perbedaan bahwa naskah pertama lebih sesuai dengan foto yang asli. Dengan demikian, Lehnert tanpa disengaja ditempatkan dalam hati sebuah legenda.

Pertanyaan mengenai hubungan antara wajah Nabi Muhammad saw dan wajah remaja Tunisia belum mendapatkan jawabannya. Lukisan seorang remaja tertawa dengan mulut setengah terbuka, memakai sorban dan bunga melati di telinga. Wajah yang sama dalam kartu yang lain dengan judul Ahmad, seorang remaja Arab dan lain-lainnya.

Kami belum mampu menyingkap perjalanan foto yang dicetak di dekade 20 –an yang sampai di tangan penerbit Teheran dan Qom di dekade 90 –an. Namun, masih ada pertanyaan apa yang menyebabkan penerbit Iran menemukan adanya kesamaan antara wajah Nabi Muhammad semasa remajanya dengan seorang remaja Tunisia?

Sebelum perang dunia pertama, gambar Muhammad di majalah National Geographic pada bulan Januari tahun 1914 dalam sebuah artikel dengan judul “Inja va Anja Dar Shumal Afriqa” (Di sana dan di sini di Utara Afrika), di bawahnya tertulis “Arabi ba Yek Gol” (Seorang Arab dengan sebuah bunga). Pada dekade dua puluhan, kartu seri Tunisia L & L sangat disukai oleh tentara Prancis di Utara Afrika. Pada dekade 80 dan 90 –an banyak buku yang dicetak yang memuat foto-foto ini, namun judulnya bukan Muhammad.

Naskah Iran yang sekarang sudah ada perubahan. Wajah yang menipu itu masih terjaga, namun keindahan wajahnya agak berkurang. Pundak sebelah kirinya agak lebih tertutup dengan kain, mulut dan matanya sudah mengalami perbaikan. Secara umum dapat dikatakan bahwa seniman Iran berusaha untuk mengurangi sisi keindahan foto Lehnert, sehingga foto itu tidak lagi terlalu menarik dan diberikan tambahan agar terlihat sebagai orang suci.

Akar Kristen?

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, sebagian tulisan menganggap bahwa hasil karya ini punya hubungan dengan Kristen dan bukan Islam. Masalah ini memberi justifikasi tidak berdosanya seorang muslim melihat wajah Nabi atau melukiskannya. Lebih dari pada itu, orang-orang Kristen menganggap Nabi Muhammad saw sejak mudanya sebagai pribadi yang suci. Kisah pendeta Kristen Katolik atau Ortodoks bernama Buhaira menyimpulkan itu. Berdasarkan kisah itu, pada abad 9 atau 10 Buhaira berusaha mencari Nabi Muhammad saw berdasarkan tanda-tanda yang dimiliki Nabi di antara pundaknya. Nabi akan datang semestinya berkata: “Ketika saya menengok ke langit dan bintang-bintang, saya merasa di atas bintang-bintang”. Ini juga sebuah alasan disebagian gambar Nabi Muhammad saw ada latar belakang bintang-bintang.

Sekalipun sampai saat ini tidak ada penggambaran tentang wajah Nabi Muhammad saw di masa mudanya, namun penggambaran itu ada dalam bentuk dewasanya. Disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw memiliki kulit putih, mata hitam, alis yang tebal,gGigi teratur dan rambut bergelombang. Bentuk yang digambarkan itu dapat ditemukan dalam poster Iran. Pada hakikatnya ini adalah sebuah gambar dari sebuah gambar lain. Dengan kata lain, pelukis Iran mengambil model Nabi Muhammad saw yang mencerminkan keindahan, keremajaan dan keserasian.[infosyiah]

Read more...

MENANTIKAN MALAM LAILATUL QODAR

>> 17 September 2009

Keutamaan Lailatul Qadar

Pertama, lailatul qadar adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1). Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya (yang artinya), “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar: 3-5). Sebagaimana kata Abu Hurairah, malaikat akan turun pada malam lailatul qadar dengan jumlah tak terhingga. Malaikat akan turun membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar. (Zaadul Maysir, 6/179)

Kedua, lailatul qadar lebih baik dari 1000 bulan. An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” Mujahid dan Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar.

Ketiga, menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat akan mendapatkan pengampunan dosa. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi?

Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)

Lalu kapan tanggal pasti lailatul qadar terjadi? Ibnu Hajar Al Asqolani telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun (Fathul Baari, 6/306, Mawqi’ Al Islam Asy Syamilah). Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima, itu semua tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021)

Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya lailatul qadar adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadar sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan.

Do’a di Malam Lailatul Qadar

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata, ”Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Adapun tambahan kata “kariim” setelah “Allahumma innaka ‘afuwwun …” tidak terdapat satu dalam manuskrip pun. Lihat Tarooju’at no. 25)

Tanda Malam Lailatul Qadar

Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh/terpercaya)

Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.

Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim no. 1174)

Bagaimana Seorang Muslim Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?

Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah. Barangsiapa yang terluput dari lailatul qadar, maka dia telah terluput dari seluruh kebaikan. Sungguh merugi seseorang yang luput dari malam tersebut. Seharusnya setiap muslim mengecamkan baik-baik sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Di bulan Ramadhan ini terdapat lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka dia akan luput dari seluruh kebaikan.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim lebih giat beribadah ketika itu dengan dasar iman dan tamak akan pahala melimpah di sisi Allah. Seharusnya dia dapat mencontoh Nabinya yang giat ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. ‘Aisyah menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)

Seharusnya setiap muslim dapat memperbanyak ibadahnya ketika itu, menjauhi istri-istrinya dari berjima’ dan membangunkan keluarga untuk melakukan ketaatan pada malam tersebut. ‘Aisyah mengatakan, “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksana kan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)

Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan malam lailatul qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan bukan seluruh malam. Pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 3/313, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah). Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Bagaimana Wanita Haidh Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?

Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya dalam keadaan berdzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)

Dari riwayat ini menunjukkan bahwa wanita haidh, nifas dan musafir tetap bisa mendapatkan bagian lailatul qadar. Namun karena wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya. Yang dapat wanita haidh lakukan ketika itu adalah: (1) Membaca Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf, (2) Berdzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan dzikir lainnya, (3) Memperbanyak istighfar, dan (4) Memperbanyak do’a. (Lihat pembahasan di “Al Islam Su-al wa Jawab” pada link http://www.islam-qa.com/ar/ref/26753)

Beri’tikaf Demi Menanti Lailatul Qadar

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Inilah penuturan ‘Aisyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim 1172)

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika ingin beri’tikaf.

Pertama, i’tikaf harus dilakukan di masjid dan boleh di masjid mana saja. I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid” (QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali.

Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”. Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, ”Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid yaitu masjidil harom, masjid nabawi dan masjidil aqsho”. Perlu diketahui, hadits ini masih dipersilisihkan statusnya, apakah marfu’ (sabda Nabi) atau mauquf (perkataan sahabat).

Kedua, wanita juga boleh beri’tikaf sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf. Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat: (1) Diizinkan oleh suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki).

Ketiga, yang membatalkan i’tikaf adalah: (1) Keluar masjid tanpa alasan syar’i atau tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak (misalnya untuk mencari makan, mandi junub, yang hanya bisa dilakukan di luar masjid), (2) Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah: 187 di atas.

Keempat, hal-hal yang dibolehkan ketika beri’tikaf di antaranya: (1) Keluar masjid disebabkan ada hajat seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid, (2) Melakukan hal-hal mubah seperti bercakap-cakap dengan orang lain, (3) Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya, (4) Mandi dan berwudhu di masjid, dan (5) Membawa kasur untuk tidur di masjid.

Kelima, jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 (sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan.

Keenam, hendaknya ketika beri’tikaf, sibukkanlah diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. (pembahasan i’tikaf ini disarikan dari Shahih Fiqih Sunnah, 2/150-158)

Semoga Allah memudahkan kita menghidupkan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan dengan amalan ketaatan. Hanya Allah-lah yang memberi taufik.

Read more...

CARA MENGUNJUNGI SURGA

>> 04 Agustus 2009

Rasulullah SAW bersabda, ''Barangsiapa menjenguk orang sakit, maka ia tak henti-hentinya dalam keadaan mengunjungi surga sampai ia pulang.''Bisakah kita mengunjungi surga sedangkan keberadaannya tak terlihat mata, tidak terdengar telinga, dan tak tergambar oleh akal ? Bagaimana mungkin kita dapat mengunjungi surga yang berada di alam gaib ?

Dalam Isra Mi'raj, Rasulullah SAW memang pernah mengunjungi surga dan menyaksikan para penghuninya. Tapi, kita bukan rasul, bukan pula nabi. Jadi, bagaimana bisa mengunjungi surga yang kita rindukan itu ? Sebenarnya, ada beragam cara yang ditunjukkan Allah SWT kepada hamba-Nya agar bisa mencapai surga. Di antara cara yang ditunjukkan Allah SWT adalah dengan menjenguk orang sakit serta memberi makan dan minum kepada hamba-Nya yang membutuhkan.

Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya pada hari kiamat, Allah 'Azza wa Jalla berfirman, 'Hai anak Adam, Aku sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku'.'' Dia berkata, ''Wahai Rabbku, bagaimana aku menjenguk-Mu, padahal Engkau adalah Rabb semesta alam ?''

Dia berfirman, ''Tahukah kamu bahwa hamba-Ku si fulan, sakit, tapi kamu tidak mau menjenguknya. Tahukah kamu, jika kamu menjenguknya, kamu akan mendapati Aku berada di sisinya.'' ''Hai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tapi kamu tidak mau memberi makan kepada-Ku.'' Dia berkata, ''Wahai Rabbku bagaimana aku memberi makan kepada-Mu, sedangkan Engkau adalah Rabb semesta alam ?''

Dia berkata, ''Tidakkah kamu tahu bahwa ada seorang hamba-Ku, si fulan, minta makan kepadamu, tapi kamu tidak memberi makan kepadanya ? Tidakkah kamu tahu bahwa jika kamu memberi makan kepadanya, kamu akan mendapati hal itu di sisi-Ku ?''

Berdasarkan hadis tersebut, jelaslah bahwa siapa pun yang menjenguk orang sakit, sesungguhnya ia sedang mengunjungi Surga sampai ia pulang.

Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah SAW ditanya, ''Wahai Rasulullah, apa maksud dalam keadaan mengunjungi Surga?'' Beliau menjawab, ''Yaitu memetik buah Surga''. Itulah sebagian kemuliaan yang Allah SWT berikan kepada para hamba-Nya di dunia. Seorang hamba yang menjenguk orang sakit, memberi makan dan minum kepada hamba-Nya yang membutuhkan, akan mendapatkan pahala, rahmat, dan kemuliaan dari Allah SWT dan berada dalam derajat yang dekat dengan-Nya.

Alangkah indahnya bila kita selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi Surga-Nya, meskipun masih hidup di dunia...

Read more...

KIAMAT AKAN DATANG TAHUN 2012 ?

Beberapa hari yang lalu ada berita di salah-satu stasiun tv swasta nasional yang membahas kiamat akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012.

Kenapa bisa memprediksi seperti itu ?

Menurut Para Ilmuwan puncak aktivitas matahari akan terjadi pada tahun 2012 tepatnya pada tanggal 21 Desember, Pada tanggal tersebut akan terjadi ledakan di dalam pusat Matahari yang jelas efeknya akan terjadi pada planet sekitarnya termasuk juga bumi yang kita diami.

Efek yang paling ringan terhadap Bumi adalah semua teknologi seperti satellite, jaringan listrik, telekomunikasi dan yang lainnya akan lumpuh total di seluruh dunia. Manusia akan memasuki episode baru yaitu abad kegelapan dimana semua fasilitas yang berbau teknologi informasi akan punah dikarenakan efek dari ledakan matahari. Efek yang paling hebat adalah dimana semua planet disekitar matahari akan saling berbenturan dan tidak akan lagi dalam pusat rotasi, inilah yang predikisikan oleh para ilmuwan dimana akan terjadi kiamat.

Sumber lain mengatakan seperti di buku "Apocalypse 2012" karya Lawrence E. Joseph : Pada tahun 2012 akan terjadi banyak bencana melanda di banyak Negara atau bisa disebut banyak bencana mengglobal di seluruh dunia. Diperkuat oleh banyak Ramalan termasuk ramalan Suku Maya kuno dari Meksiko : Bahwa pada tahun 2012 akan ada meteor besar yang jatuh ke Bumi.

Benarkah semua Prediksi itu ?

Dalam pandangan Islam, Kiamat pasti terjadi dan akan terjadi, itu termasuk Rukun Iman, yakni Beriman kepada Hari Akhir. Tanda-tanda secara umum Hari Kiamat dalam pandangan islam saat ini sudah terjadi, seperti diantaranya : Datangnya Nabi akhir Zaman, Banyaknya bencana di sana-sini, Penyakit-penyakit baru dan aneh yang belum ada obatnya, serta masih banyak lagi tanda-tanda umum lainnya.

Tapi tanda-tanda Khusus belum ada, yakni :

- Datangnya Dajjal atau menurut versi barat adalah Luciffer, untuk merusak semua tatanan kehidupan di bumi.
- Datangnya Yajujj Majujj.
- Turunnya Isa al masih (versi Islam), Jesus Kristus atau Jesus from Nazareth (versi Kristiani), Joshua (versi Yahudi).

Dalam pandangan islam akan turun Isa al masih untuk meluruskan ajaran yang di bawanya, membenarkan Muhammad adalah nabi akhir jaman dan menghancurkan Dajjal beserta para pengikutnya.

Dari semua prediksi dan pandangan tersebut, kita sebagai Manusia tidak akan pernah bisa dan sanggup menentukan secara pasti "Kapan Kiamat akan Datang".

Semuanya itu adalah rahasia Sang Pencipta dan Penguasa Alam, Allah 'aza Wajalla...

Read more...

ICMI DESAK CINA UNTUK LINDUNGI WARGA MUSLIM

>> 25 Juli 2009

JAKARTA -- Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) mengingatkan agar Pemerintah Cina tak menerapkan pendekatan keamanan dalam menyelesaikan peristiwa kerusuhan di Urumqi, Provinsi Xinjiang, Cina, yang melibatkan kaum Muslim Uighur.

''Kami minta Pemerintah Cina selalu mengedepankan hak asasi manusia (HAM) serta memberikan jaminan pada kelompok-kelompok minoritas di sana, khususnya kaum Muslim Uighur,'' ungkap Azyumardi Azra, salah seorang Presidium ICMI saat menerima Utusan Khusus Menlu Cina, Chen Shiqiu, di kantor ICMI, Jakarta, Jumat (24/7).

Chen bertandang ke ICMI didampingi sejumlah pejabat dan diplomat Cina. Delegasi Pemerintah Cina itu bertujuan untuk menjelaskan peristiwa kerusuhan yang melibatkan Muslim Uighur di Kota Urumqi, Xinjiang, Cina. Menurut Chen, kerusuhan yang menewaskan 190 orang itu bukanlah masalah etnis atau masalah agama.

''Peristiwa itu memiliki latar belakang politis yang sangat dalam. Jadi, bukan terkait masalah etnis atau persoalan agama,'' papar Chen. Menanggapi pernyataan Chen, Azyumardi menegaskan, jika pemerintah Cina terlalu menggunakan pendekatan keamanan, justru akan menciptakan kekerasan yang sulit dihilangkan.

ICMI meminta agar Pemerintah Cina menggunakan pendekatan dialogis dalam menghadapi masalah dengan umat Muslim di negeri Tirai Bambu itu. ''Pendekatan dialogis antara Pemerintah Cina dan tokoh-tokoh Muslim di Xinjiang dilakukan, bahkan harus pula melibatkan masyarakat madani di sana,'' ujar Azyumardi menegaskan.

Azyumardi juga berharap agar ada pemerataan bagi masyarakat atau kaum Muslim di Cina terkait hasil bumi dan hasil alam. ''Saya dengar, Xinjiang itu kaya kandungan minyak bumi dan gas alam. Jika tidak terjadi pemerataan, tentunya akan menimbulkan kecemburuan,'' tuturnya.

Sehari sebelumnya, utusan khusus Cina itu berkunjung ke kantor PP Muhammadiyah, Jakarta. Dalam pertemuan itu, Ketua Umum PP Muhammadyah, Din Syamsudin, meminta agar Pemerintah Cina menghargai hak-hak beragama kaum Muslim Uighur di Cina. ''Memang, masalah di Xinjiang merupakan masalah domestik. Kami berharap cara-cara penanganan yang dilakukan Pemerintah Cina menghargai HAM, hak beragama, serta hak hidup,'' ungkap Din.

Read more...

DUA SYARAT HIDUP TENANG

>> 18 Juli 2009

''Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami adalah Allah', kemudian meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, 'Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih'.'' (QS Fushshilat [41]: 30).

Mungkinkah kita bisa benar-benar hidup tenang, sedangkan impitan ekonomi dan beban hidup terasa begitu berat? Jawabannya, ''Ya.'' Kita bisa hidup tenang, tanpa perlu merasa takut dan sedih, hanya dengan menjalankan dua syarat.Pertama, percaya kepada Allah SWT dengan sepenuh hati. Kedua, istiqamah dalam kebaikan. Demikianlah yang dijanjikan Allah SWT di dalam surat di atas.

Di dalam tafsirnya, Imam ar-Razi menjelaskan, ketenangan jiwa hanya bisa diraih dengan kebenaran hakiki dan amal saleh. Puncak kebenaran hakiki adalah mengenal Allah SWT. Sementara puncak amal saleh adalah istiqamah.Mengenal Allah SWT berarti mengetahui dan meyakini betul segala sifat dan nama baik (asmaul husna) yang dimiliki-Nya. Dengan demikian, seseorang tak akan lagi merasa khawatir dalam menghadapi hidup ini.

Sebab, ada Allah Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, Yang Maha Pemberi Rezeki, Yang Maha Pemurah, yang telah menjamin makanan dan keamanannya. Dalam konteks ini berlaku prinsip pantulan bola, yaitu semakin keras bola dilemparkan, semakin keras pula bola itu memantul. Artinya, semakin besar keyakinan dan kepercayaan kita terhadap Kemahakuasaan dan Kemahamurahan Allah SWT, semakin besar pula kasih sayang dan kemurahan Allah SWT kepada kita.

Ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam hadis qudsi, ''Sesungguhnya Aku tergantung sangkaan hamba-Ku kepada-Ku.'' (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Setelah mengenal Allah SWT, yang dituntut kemudian adalah istiqamah. Imam ar-Razi menyebutkan, yang dimaksud istiqamah di sini adalah konsistensi melakukan amal saleh, baik itu di saat lapang maupun sulit.

Sebab, amal saleh tidak bergantung pada situasi atau kondisi tertentu. Kapan dan di manapun, seorang Muslim yang berharap ridha Allah SWT pasti akan melakukan amal saleh. Rasulullah SAW menegaskan, ''Amal saleh yang paling disukai oleh Allah adalah yang dilakukan terus-menerus sekalipun itu sedikit.'' (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasai, dll).

Bila seorang Muslim percaya kepada Allah SWT dengan sepenuh hati dan istiqamah dalam kebaikan, niscaya Allah SWT akan memberinya kehidupan tenang, berupa malaikat-malaikat yang turun membisikkan ke dalam hatinya kalimat penyemangat, ''Jangan khawatir dan bersedih hati. Sebab, akan banyak keajaiban yang pasti menghampiri.''

Read more...

ABU NAWAS PENYAIR ANDAL DINASTI ABBASIYAH

Seorang penyair muda berpenampilan nyentrik itu memang layak dikenang. Rambutnya ikal, panjang bergelombang terurai hingga ke bahu. Karena penampilannya itu, ia dijuluki Abu Nawas (si rambut ikal panjang). Nama aslinya adalah al-Hasan ibn Hani al-Hakami. Ia tumbuh dari keluarga kelas bawah, namun karya-karyanya mewakili kelompok penyair papan atas di zamannya.


Dia seorang penyair yang jenius, kritis, liar, slengean, menjengkelkan (bagi sebagian orang), tetapi juga religius. Dikatakan jenius, karena dalam sejarah kepenyairan Arab, dirinya adalah tonggak baru yang memisahkan puisi sebelum dan sesudahnya.

''Ia memasukkan unsur-unsur modern dalam karya-karyanya. Dia membangun imajinasi kehidupan kota, seperti anggur, jalanan, gedung-gedung, wanita, dan anak laki-laki 'piaraan', ke dalam puisi. Para penyair sebelumnya lebih senang mengambil objek desa. Dia yang pertama menulis puisi seks dan homoseksualitas,'' kata Adonis, sastrawan Arab modern, mengomentari karya-karya Abu Nawas.

Ketika masih belia, puisi-puisi Abu Nawas banyak bertutur tentang khamar (tuak atau minuman keras). Salah satunya adalah puisi khumrayat (penggambaran tentang minuman keras). Ia menggambarkan tentang kelezatan dan keburukan khamar, cara memerasnya, mengolahnya, hingga warna, aroma kelezatan rasa, dan kehidupan para peminumnya. Menurutnya, khamar dapat menenangkan hatinya yang gundah.

Dr Muhammad al-Nuwaihi dalam kitabnya Nafsiyyat Abi Nuwas menyebutkan Abu Nawas sangat tergantung pada minuman keras. Tingkah lakunya itu sungguh aneh. Maka, banyak orang yang mengatakan puisi-puisinya merupakan refleksi dari tingkah lakunya.

Tampaknya, Abu Nawas muda mewakili sisi lain dari kehidupan di zamannya. Tingkah lakunya yang berseberangan dengan ajaran agama, menunjukkan ada kehidupan sosial lain yang tidak tercatat dalam buku-buku sejarah. Zaman kegemilangan Islam era Dinasti Abbasiyah yang dikenal maju dalam ilmu pengetahuan dan ilmu-ilmu agama, juga diwarnai dengan kehidupan gelap. Di sini, Abu Nawas secara jujur dan apa adanya mengungkapkan sisi gelap itu.

Apakah puisi-puisi Abu Nawas muda menyesatkan? Bagi sebagian orang mungkin ya, tetapi bagi sebagian yang lain ternyata tidak. Adonis, contohnya. Penyair asal Suriah yang bernama asli Ali Ahmad Said ini mengungkapkan tidak ada puisi Arab yang menyesatkan.

''Berkali-kali membaca puisi Arab, saya tidak melihat ada kesesatan. Sebaliknya, puisi memberi kebenaran mendalam. Ada keharmonisan hubungan antara kata-kata dan benda, antara manusia dan alam. Puisi membuka cakrawala manusia tanpa batas,'' katanya.

''Penyair harus punya sesuatu yang bergolak dalam dirinya. Untuk menulis puisi, manusia harus hidup di dalam puisi. Ungkapan seorang penyair amat berbeda dengan cara pemikir, filsuf, alim ulama, atau ahli agama. Saat melihat jendela, seorang pemikir berkata jendela ini persegi panjang. Tapi, penyair bisa bilang jendela adalah perempuan yang membentangkan kedua tangannya,'' tambahnya.

Adonis juga mengutarakan bahwa senjata penyair adalah kebebasan. Orang yang tidak dapat lepas dari kungkungan eksternal ataupun internal, tidak akan mungkin menjadi penyair. Selama orang segan menyatakan apa yang ada dalam dirinya, ia tidak akan dapat berpuisi. Ia mencontohkan, seksualitas yang mungkin tidak bisa diutarakan oleh orang yang taat beragama, karena hal itu baginya tabu untuk diungkapkan.

Abu Nawas tidak segan-segan mempuisikan apa yang ia lakukan dan rasakan. Karena itu, tudingan-tudingan seperti penyair zindik atau pendosa besar sering dialamatkan kepadanya. Apa yang dikatakan oleh Adonis bahwa senjata seorang penyair adalah kebebasan, menjadikan Abu Nawas tampak melampaui batas kesopanan dan merendahkan ajaran agama.

Hilangnya aroma Tuak


Tak pernah ada kata terlambat untuk bertobat. Itulah salah satu pelajaran penting yang diajarkan Abu Nawas. Masa mudanya memang diwarnai dengan gaya hidup penuh maksiat. Namun, di masa tuanya, sang penyair berubah menjadi seorang sufi. Penyesalan dan pertobatannya dia ungkapkan lewat puisi-puisinya yang bertema zuhdiyat (kehidupan zuhud). Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian, di akhir hayat Abu Nawas mengisi kehidupannya dengan ibadah.

Apa gerangan yang membuat Abu Nawas bertobat? Ada yang berpendapat karena dia dijebloskan ke dalam penjara oleh Khalifah al-Ma'mun, setelah menikmati masa kejayaan bersama Khalifah Harun al-Rashid dan Khalifah al-Amin. Al-Ma'mun tidak bisa memberikan toleransi pada karya-karya Abu Nawas yang vulgar, mengumbar kesenangan dan nafsu seksual.

Sejak ia dipenjarakan, puisi-puisinya berubah menjadi religius. Kenakalan dan aroma kendi tuak dalam puisinya yang khas meluntur, seiring dengan kepasrahannya kepada kekuasaan Allah. Puisi-puisi tuaknya digantikan dengan puisi pertobatan kepada Yang Mahakuasa.

Pada masa ini, puisi dan syair yang ditulisnya terdiri atas beberapa tema. Ada yang bertema pujian (madah), sati re (hija’), zuhud (zuhdiyat), bahaya minum khamar (khumriyat), cinta (hazaliyat), serta kejenakaan (mujuniyah). Syairsyair religiusnya dikenal dan dibaca di seantero jagad Islam. Dari masjid-masjid dan surausurau di Nusantara. Salah satu syair zuhdiyat Abu Nawas terus berkumandang:

Ilahi, lastu lilfirdausi ahla. Wala aqwa ‘ala naril jahimi Fahab li tawbatan waghfir dzunubi. Fainnaka ghafirud Zanbil azimi. (Tuhanku, hamba tidaklah pantas menjadi penghuni surga. Namun, hamba juga tidak kuat akan panas api neraka. Maka, berilah hamba ampunan atas dosa-dosa hamba. Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Mahaagung) Puisi pertobatan itu diakhiri dengan kata-kata, ‘’Jika Engkau meng ampuni dosa-dosaku, sung guh Engkau adalah Zat Yang Ma ha pengampun. Tetapi, jika Eng kau menolaknya, lantas kepada siapa aku harus mengadu.’’ rid/berbagai sumber

Dari Istana ke Penjara

Abu Nawas dipandang oleh kalangan penyair modern sebagai penyair Arab klasik terbesar. Sederet nama sastrawan beken semacam Omar Kayam dan Hafiz—dua sastrawan Islam kondang—diketahui banyak mendapat pengaruh dari Abu Nawas.

Tak mengherankan jika puisi-puisi penyair nyentrik ini kemudian diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan tersebar di berbagai belahan dunia. Salah satu karyanya dialihbaha sakan ke dalam bahasa Inggris berjudul O Tribe That Loves Boysoleh Hakim Bey dan diterbitkan Entimos Press pada 1993.

Jaafar Abu Tarab juga menerjemahkan karya Abu Nawas berjudul Carousing With Gazelles. Jim Colville menerjemahkan Poems of Wine and Revelry: The Khamriyyat of Abu Nuwas. Di mata para sastrawan Barat, Abu Nawas tampak begitu istimewa. Philip F Kennedy, misalnya, secara khusus menulis The Wine Song in Classical Arabic Poetry: Abu Nuwas and the Literary Tradition, yang diterbitkan Open University Press tahun 1997. Pada 2005, Penerbit OneWorld Press menerbitkan buku karya Philip Kennedy berjudul Abu Nuwas: A Genius of Poetry.

Dalam kitab Al-Wasith fil Adabil Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, jenaka, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun, di Indonesia ia lebih dikenal sebagai orang aneh yang bertingkah lucu dan konyol.

Keistimewaan Abu Nawas tidak lahir begitu saja, tetapi terasah sejak dirinya masih belia. Ia diperkirakan lahir antara tahun 747 hingga 762 M. Ada yang memastikan, ia lahir pada 738 M di Ahwaz, Persia. Ayahnya seorang Arab bernama Hani, anggota tentara Marwan bin Muhammad atau Marwan II, khalifah terakhir Dinasti Umayyah di Damaskus. Sementara ibunya, dari Persia bernama Golban atau Jelleban, yang kesehariannya bekerja sebagai penenun.

Konon, sejak lahir hingga tutup usia, Abu Nawas tak pernah bertemu dengan sang ayah. Kemiskinan memaksa ibunya menjual Abu Nawas kecil kepada seorang penjaga toko dari Yaman bernama Sa’ad Al-Yashira. Abu Nawas muda bekerja di toko grosir milik tuannya di Basrah, Irak. Sejak remaja, otak Abu Nawas terkenal encer. Ini menarik perhatian Walibah ibnu Al-Hubab, seorang penulis puisi berambut pirang. Al-Hubab pun memutuskan untuk membeli dan membebaskan Abu Nawas dari tuannya.

Al-Hubab mendidiknya dalam disiplin teologi, tata bahasa Arab, dan puisi. Sejak itulah, Abu Nawas begitu tertarik dengan dunia sastra. Ia kemudian menimba ilmu dari Khalaf Al-Ahmar di Kufah. Sang guru memerintahkannya untuk berdiam di padang pasir bersama orang-orang badui, untuk mendalami dan memperhalus pengetahuan bahasa Arabnya selama satu tahun. Setelah itu, dia hijrah ke Baghdad yang merupakan kota metropolitan era kejayaan Islam di bawah Khalifah Harun Al-Rasyid.

Karier Abu Nawas di dunia sastra makin menanjak setelah kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun Al-Rasyid. Melalui perantara musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas akhirnya diganjar predikat sebagai sya’irul bilad(penyair negeri). Puncak kariernya terjadi pada masa khalifah Al-Amin. Kebanyakan karya Abu Nawas lahir pada periode ini. Akan tetapi, hampir semua puisinya berorientasi pada pemujaan terhadap Khalifah.

Kemesraan Abu Nawas dengan pihak kerajaan tidak selamanya mulus. Setelah Al-Amin mangkat dan digantikan oleh Al-Ma’mun, Abu Nawas berada dalam masalah besar.

Al-Ma’mun tidak bisa memberikan toleransi kepada Abu Nawas yang gemar membuat puisi erotis, jorok, bahkan melawan ajaran agama. Al-Ma’mun menjebloskan Abu Nawas ke penjara. Pendapat lain menyatakan dipenjarakannya Abu Nawas karena ia menghina Ali bin Abi Thalib.

Namun justru penjara menjadi tempat tumbuhnya gairah spiritual Abu Nawas. Ia berubah menjadi seorang sufi. Menurut Zonbor, sekretaris Sultan, Abu Nawas hanya berpura-pura tobat karena mengharapkan ampunan dari Sultan. Diperkirakan, Abu Nawas menghabiskan hidupnya di dalam penjara. rid/berbagai sumber

Read more...

GIAT SAAT FAKIR

Kefakiran harta sering diidentikkan dengan kehinaan. Karakter rendah diri, merasa tak berdaya, hingga menghinakan diri sendiri, sering menjangkiti mereka yang dilanda kefakiran. Akumulasi karakter itu akan mengempaskan pada jurang keputusasaan. Kegairahan untuk bangkit dan berjuang pun hilang. Langkah nyata menghindarkan diri dari keterpurukan pun tak akan kembali muncul.

Kegairahan hidup harus terpelihara, walau di tengah kefakiran. Kefakiran mesti menjadi daya pengungkit bagi tercapainya kehidupan yang lebih baik. Perasaan hina karena kefakiran harus ditumbangkan, karena sangat tidak beralasan.Islam pun tidak mengenal perspektif demikian. Karena kehinaan bukan milik si fakir, tapi mereka yang tidak beriman dan tak menaati Allah SWT.

''Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barang siapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahanamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar.'' (QS Attaubah [9]: 63).Untuk menjaga kegairahan hidup, Islam memandang bahwa mereka yang fakir sebagai makhluk yang dicintai Allah SWT. Kefakiran bukanlah azab yang dilaknat, tapi ujian yang dapat mendatangkan kebaikan.

Seperti sabda Rasulullah SAW, ''Sesungguhnya makhluk yang paling dicintai oleh Allah adalah orang-orang yang fakir, karena makhluk yang paling dicintai Allah adalah para Nabi, maka Allah menguji mereka dengan kefakiran.''Rasulullah SAW pun bermunajat agar dimatikan bersama orang fakir. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri, ''Ya Allah, matikanlah aku sebagai orang yang fakir dan jangan matikan aku sebagai orang kaya. Kumpulkanlah aku nanti pada hari kiamat dalam rombongan orang-orang miskin.''

Sabda Rasulullah SAW itu bukan meninabobokan agar nyaman bersama kefakiran. Lalu, lari dari hidup yang berkecukupan. Namun, untuk mengembalikan harga diri dan kepercayaan diri, di tengah penghinaan dan pengucilan manusia yang menilai kemuliaan dari keberlimpahan harta.

Janji Allah SWT dan Rasulullah SAW yang selalu bersamanya, mencintainya, dan membelanya, hendaknya menjadi pemulih optimisme dalam mengarungi kefakiran.Ini juga menjadi modal untuk menggiatkan kemauan berusaha, bekerja lebih keras, juga kreatif. Seperti giatnya sahabat yang fakir di masa Rasulullah SAW saat berkompetisi dengan sahabat yang berharta dalam mengisi kehidupan, dengan karya-karya sesuai kemampuan mereka.

Tetap produktif, berkontribusi, dan tak membebani orang lain telah menjadi karakter mereka. Kefakiran bukanlah penghambat, tapi penyemangat untuk berebut kebaikan dan pahala di tengah keterbatasan. Karena di tengah keterbatasanlah, segalanya lebih dilipatgandakan oleh Allah Yang Mahakaya.

Read more...

ISLAM IS A WAY OF LIFE

ISLAM IS A WAY OF LIFE
ALLAH SANG MAHA ESA & MAHA BERKUASA
Jadwal Waktu Sholat (6 Juta Kota)

BIMBINGAN SHOLAT WAJIB ( Klik Gambar untuk Mulai )

Hanya Allah SWT yang Maha Berkuasa atas Dunia dan Akhirat

Hanya Allah SWT yang Maha Berkuasa atas Dunia dan Akhirat

Kami Mencintai Allah SWT dan Muhammad SAW

Kami Mencintai Allah SWT dan Muhammad SAW

Nabi yang Paling Kami Cintai adalah Muhammad SAW

Nabi yang Paling Kami Cintai adalah Muhammad SAW

  © Free Blogger Templates Joy by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP